Kesehatan lingkungan pada hakikatnya adalah suatu kondisi atau keadaan lingkungan yang optimum sehingga berpengaruh positif terhadap terwujudnya status kesehatan yang optimum pula. Ruang lingkup kesehatan lingkungan tersebut antara lain mencakup perumahan, pembuangan kotoran manusia (tinja), penyediaan air bersih, pembuangan sampah, pembuangan air kotor (air limbah), rumah hewan ternak (kandang) dan sebagainya. Adapun yang dimaksud dengan usaha kesehatan lingkungan adalah suatu usaha untuk memperbaiki atau mengoptimumkan lingkungan hidup manusia agar merupakan media yang baik untuk terwujudnya kesehatan yang optimum bagi manusia yang hidup di dalamnya (Notoatmodjo.S. 2003 : 103).
Kesehatan masyarakat erat kaitannya dengan masalah lingkungan, salah satunya adalah pengolahan air limbah secara baik dan benar. Air limbah merupakan bahan buangan yang timbul karena adanya kehidupan aktivitas yang dilakukan oleh manusia sebagai makhluk hidup, individu maupun makhluk sosial. Kehidupan manusia yang dominan dan menentukan terjadinya perubahan dari berbagai aspek kehidupan. Dan lingkungannya dituntut untuk memenuhi berbagai kebutuhan hidupnya (Soeparman. 2002).
Di samping perilaku dan pelayanan kesehatan yang bermutu pengetahuan juga berperan penting dalam mencapai derajat kesehatan yang setinggi-tingginya. Pengetahuan merupakan segala sesuatu yang diketahui oleh setiap individu terhadap kesehatan lingkungan. Pengetahuan sangat besar perannya dalam pencapaian dan perwujudan derajat kesehatan yang setinggi-tingginya dalam kehidupan bermasyarakat
Masyarakat atau komunitas merupakan sekumpulan manusia yang saling bergaul dengan mempunyai batas-batas tertentu dan saling berinteraksi sosial yang merupakan hubungan antar perorangan, antar kelompok maupun antar perorangan dengan kelompok, yang menempati suatu wilayah tertentu menurut suatu keadaan geografis sebagai tempat tinggal komunitasnya baik dalam ruang lingkup yang kecil RT/ RW, desa/ kelurahan, kecamatan, kabupaten, propinsi dan bahkan negara. Setiap anggota masyarakat yang hidup pada suatu wilayah selalu tergantung satu dengan yang lainnya.
Sebahagian besar masalah air limbah yang sering menjadi perhatian adalah air limbah yang berasal dari industri, sedangkan sumber air limbah yang tidak kalah pentingnya adalah air limbah yang berasal dari rumah tangga yang tidak mendapat perhatian sebagai mestinya.
Masalah lingkungan dan kesehatan masyarakat timbul diberbagai daerah, baik perkotaan maupun pedesaan, karena produksi limbah yang tidak ditanggapi secara semestinya di berbagai tempat terjadi pencemaran badan air, sungai atau telaga, yang menimbulkan kematian ikan yang hidup di dalamnya, atau menyebabkan air tidak dapat ditangani sebagimana mestinya, dapat menimbulkan berbagai macam bahaya bagi kehidupan makhluk dan lingkungannya.
Di satu pihak pertambahan penduduk yang pesat menyebabkan peningkatan kebutuhan areal tanah bagi pemukiman, namun di lain pihak areal permukaan tanah yang terbuka menjadi semakin terbatas untuk penyerapan air comberan. Air comberan/ air bekas pakai rumah tangga banyak mengandung bahan-bahan organik, sehingga merupakan media bagi agen penyakit. Maka bila mencemari air bersih, akan merupakan sumber yang ditularkan/ disebarkan lewat air (Water Borne Disease). Oleh karena itu yang menjadi pokok permasalahan adalah bagaimana mengupayakan air comberan/ air bekas pakai agar kecil
2
kemungkinannya mencemari air bersih.
Lalat yang hinggap di sampah dan dipermukakan air limbah atau tikus selokan yang masuk ke dalam saluran air limbah dapat membawa sejumlah kuman penyebab penyakit. Bila lalat atau tikus tersebut menyentuh makanan atau minuman maka besar kemungkinan orang yang menelan makanan tersebut akan menderita salah satu penyakit di atas. Demikian pula dengan anak-anak kecil yang bermain atau larang dewasa yang bekerja di dekat atau mengalami kontak langsung dengan air limbah dan sampah dapat terkena penyakit seperti yang tersebut di atas, terutama bila tidak membersihkan anggota badan terlebih dahulu.
Sampah dan air limbah mengandung berbagai macam unsur seperti gas-gas terlarut, zat-zat padat terlarut, minyak dan lemak serta mikroorganisme. Mikroorganisme yang terkandung dalam sampah dan air limbah dapat berupa organisme pengurai dan penyebab penyakit. Pembuangan kotoran dan sampah ke dalam saluran yang menyebabkan penyumbatan timbulnya genangan akan mempercepat berkembangbiaknya mikroorganisme atau kuman-kuman penyebab penyakit, serangga dan mamalia penyebar penyakit seperti lalat dan tikus.
Suatu badan air seperti sungai atau laut mempunyai kapasitas penguraian tertentu. Bila air limbah langsung dimasukkan begitu saja ke dalam badan air tanpa dilakukan suatu proses pengolahan, maka suatu saat dapat menimbulkan terjadinya pencemaran lingkungan. Pencemaran tersebut berlangsung bila kapasitas penguraian limbah yang terdapat dalam bandan air dilampaui sehingga badan air tersebut tidak mampu lagi melakukan proses pengolahan atau penguraian secara alamiah. Kondisi yang demikian dinamakan kondisi septik atau tecemar yang ditandai oleh timbulnya bau busuk, warna air yang gelap dan pekat, banyaknya ikan dan organisme air lainnya yang mati atau mengapung.
Salah satu kebutuhan penting akan kesehatan lingkungan adalah masalah air bersih, persampahan dan sanitasi, yaitu kebutuhan akan air bersih, pengelolaan sampah yang setiap hari diproduksi oleh masyarakat serta pembuangan air limbah yang langsung dialirkan pada saluran/sungai. Hal tersebut menyebabkan pendangkalan saluran/sungai, tersumbatnya saluran/sungai karena sumpah. Pada saat musim penghujan selalu terjadi banjir dan menimbulkan penyakit. Beberapa penyakit yang ditimbulkan oleh sanitasi, pembuangan sampah dan air limbah yang kurang baik di antaranya adalah: diare, demam berdarah, disentri, Hepatitis A, kolera, tiphus, cacingan, malaria.
Seiring dengan berjalannya waktu dan bertambahnya kebutuhan pelayanan kesehatan menuntut perawat kontemporer saat ini memiliki pengetahuan dan keterampilan di berbagai bidang. Saat ini perawat memiliki peran yang lebih luas dengan penekanan pada peningkatan kesehatan dan pencegahan penyakit, juga memandang klien secara komprehensif.
Perawat kontemporer menjalankan fungsi dalam kaitannya dengan berbagai peran pemberi perawatan, pembuat keputusan klinik dan etika, pelindung dan advokat bagi klien, manajer kasus, rehabilitator, komunikator dan pendidik (Potter dan Perry, 1997).
Sebagai pemberi perawatan, perawat membantu klien mendapatkan kembali kesehatannya melalui proses penyembuhan yang lebih dari sekedar sembuh dari penyakit tertentu namun berfokus pada kebutuhan kesehatan klien secara holistik, meliputi upaya mengembalikan kesehatan emosi, spiritual, dan sosial.
Sebelum mengambil tindakan keperawatan, baik dalam pengkajian kondisi klien, pemberian perawatan, dan mengevaluasi hasil, perawat menyusun rencana tindakan dengan menetapkan pendekatan terbaik bagi tiap klien. Penetapan ini dilakukan sendiri oleh perawat atau dapat berkolaborasi dengan keluarga klien dan dalam keadaan seperti ini perawat juga dapat bekerja sama dan berkonsultasi dengan tenaga kesehatan profesional yang lain (Keeling
3
dan Ramos, 1995).
Perawat juga berperan sebagai advokat atau pelindung klien, yaitu membantu untuk mempertahankan lingkungan yang aman bagi klien dan mengambil tindakan untuk mencegah terjadinya kecelakaan dan melindungi klien dari efek yang tidak diinginkan yang berasal dari pengobatan atau tindakan diagnostik tertentu.
Peran inilah yang belum tampak di kebanyakan institusi kesehatan di Indonesia, perawat masih sebatas menerima delegasi dari profesi kesehatan yang lain tanpa mempertimbangkan akibat dari tindakan yang akan dilakukannya apakah aman atau tidak bagi kesehatan klien. Manajer kasus juga merupakan salah satu peran yang dapat dilakoni oleh perawat, di sini perawat bertugas untuk mengatur jadwal tindakan yang akan dilakukan terhadap klien oleh berbagai profesi kesehatan yang ada di suatu rumah sakit untuk meminimalisasi tindakan penyembuhan yang saling tumpang tindih dan memaksimalkan fungsi terapeutik dari semua tindakan yang akan dilaksanakan terhadap klien.
Seperti yang telah dijelaskan di paragraf sebelumnya yaitu perawat harus mengembalikan kondisi klien secara holistik baik fisik maupun sosial dan spiritual klien ke keadaan sebelum klien menderita penyakitnya. Di sinilah peran perawat sebagai rehabilitator untuk mengembalikan keadaan klien atau paling tidak seoptimal mungkin untuk mendekati keadaan seperti sebelum ia sakit dengan berbagai asuhan keperawatan seperti latihan ROM dan latihan lain yang dapat membantu klien untuk kembali ke kondisi kesehatannya seperti semula.
Selain di bidang pelayanan kesehatan, perawat juga memiliki peran sebagai pendidik. Ada dua konteks pendidik disini, pertama sebagai pendidik di suatu institusi pendidikan keperawatan untuk mencetak perawat-perawat baru yang berkualitas, dan kedua adalah sebagai tenaga pendidik yang memberikan pengetahuan tentang kesehatan kepada masyarakat umum untuk menciptakan lingkungan yang sadar dan peduli akan pentingnya hidup dalam taraf kesehatan tertentu.
Keperawatan terbagi menjadi beberapa fokus bidang yaitu, keperawatan jiwa, keperawatan medikal bedah, keperawatan maternitas, keperawatan komunitas, dan keperawatan anak, setidaknya itulah yang berkembang di keperawatan Indonesia.
Pembagian ini dapat kita ambil sebagai salah satu contoh yang menegaskan bahwa peran perawat sangatlah luas dan mencakup seluruh daur hidup manusia dari masa fetus (janin) hingga masa terminal (menjelang kematian). Sesuai dengan KepMenKes No.1202/MENKES/SK/VIII/2003 tentang indikator Indonesia Sehat 2010,“Pada tahun 2010 itu bangsa Indonesia diharapkan akan mencapai tingkat kesehatan tertentu yang ditandai oleh penduduknya yang
- hidup dalam lingkungan yang sehat,
- mempraktikkan perilaku hidup bersih dan sehat, serta
- mampu menyediakan dan memanfaatkan (menjangkau) pelayanan kesehatan yang bermutu, sehingga
- memilik derajat kesehatan yang tinggi.
Namun pada kenyataannya indikator-indikator yang menggambarkan tingkat kesehatan dan kesejahteraan rakyat Indonesia hingga sekarang di tahun 2008 masih memprihatinkan.
Indikator yang pertama menyatakan bahwa pada tahun 2010 nanti diharapkan penduduk Indonesia hidup dalam lingkungan yang sehat. Perawat dapat menciptakan
4
lingkungan yang sehat dengan cara mempromosikan perilaku sehat seperti mencuci tangan
sebelum beraktifitas, senantiasa menutup mulut ketika batuk, tidak meludah sembarangan dan kebiasaan-kebiasaan kecil lainnya.
Selain itu perawat di puskesmas juga dapat secara proaktif dalam mengadakan penyuluhan kesehatan kepada masyarakat di wilayahnya terkait masalah kesehatan aktual yang dapat menyebar dengan cepat seperti flu burung dan demam berdarah. Diharapkan setelah dilakukan hal-hal tersebut, indikator yang kedua akan terpenuhi yaitu masyarakat memiliki perilaku sehat yang pada akhirnya membentuk lingkungan yang sehat pula.
Tahun 2010 nanti juga diharapkan penduduk Indonesia tidak lagi menemukan hambatan yang berarti dalam menjangkau pelayanan kesehatan baik itu dalam hal ekonomi atau biaya maupun yang bersifat non-ekonomi seperti jarak pelayanan kesehatan yang semakin dekat sehingga memudahkan klien yang membutuhkannya.
Dalam hal ini perawat dapat menggunakan metode kunjungan ke rumah-rumah klien yang membutuhkan pelayanan kesehatan ataupun dengan menggunakan kemajuan teknologi untuk mempermudah komunikasi seperti pesawat telepon maupun video conference yang memang belum begitu berkembang di Indonesia. Selain itu, perawat juga harus menambah pengetahuannya dengan terus menuntut ilmu ke jenjang yang lebih tinggi guna meningkatkan kualitas pelayanannya.
5
Daftar Pustaka
- Departemen Kesehatan Republik Indonesia. “Visi Pembangunan Kesehatan: Indonesia Sehat 2010.” (Situs Depkes RI).
- Haber, D. (1994). Health promotion and aging. New York: Springer.
- Keeling, A. W. dan Ramos, M. C. (1995). Nurs Health Care: Perspectives on Community. The role of nursing history in preparing nursing for the future, 16—30.
- Neuman, B. (1990). Health as a continuum based on the Neuman systems model. Nurs Sci Q, 3–129.
- Potter, P. A., dan Perry, A. G. (2005). Fundamentals of Nursing: Concept, Process, and Practice, 4/E. (Terj. Yasmin Asih, et al). Jakarta: EGC.


No comments
Komentarnya yaa...