KEPERAWATAN JIWA MASYARAKAT

Share:

PENDAHULUAN

Gangguan jiwa merupakan salah satu dari empat masalah kesehatan utama di Negara-negara maju,modern dan industri.Keempat masalah kesehatan utama tersebut adalah penyakit degeneratif,kangker,gangguan jiwa dan kecelakaan (Mardjono dalam Hawari 2001).Meskipun gangguan jiwa tersebut tidak dianggap sebagai gangguan yang menyebabkan kematian secara langsung,namun beratnya gangguan tersebut dalam arti ketidakmampuan serta invaliditas baik secara individu maupun kelompok akan menghambat pembangunan,karena mereka tidak produktif dan tidak efisien.

Menurut paham kesehatan jiwa seseorang dikatakan sakit apabila ia tidak lagi mampu berfungsi secara wajar dalam kehidupannya sehari-hari,di rumah, di sekolah/kampus, di tempat kerja dan di lingkungan sosialnya.

Hingga sekarang penanganan penderita gangguan jiwa belum memuaskan, hal ini terutama terjadi di Negara-negara yang sedang berkembang,disebabkan ketidak tahuan keluarga maupun masyarakat terhadap penderita gangguan jiwa. Diantaranya adalah masih terdapatnya pandangan yang negative (stigma) dan bahwa gangguan jiwa bukanlah suatu penyakit yang dapat diobati dan disembuhkan.

Kata stigma berasal dari bahasa Inggris yang artinya noda atau cacat.Dalam kaitannya dengan gangguan jiwa, yang dimaksud Stigma adalah:

  1. Sikap keluarga dan masyarakat yang menganggap bahwa gangguan jiwa merupakan aib bagi keluarga, sehingga sering kali penderita gangguan jiwa disembunyikan, bahkan dikucilkan karena malu.
  2. Sikap keluarga dan masyarakat yang menganggap bahwa gangguan jiwa merupakan penyakit yang disebabkan oleh hal-hal yang tidak rasional ataupun supranatural (guna-guna,kemasukan setan,kemasukan roh jahat , melanggar larangan atau tabu dan lain sejenisnya.

Dengan adanya stigma di atas maka kadang kala penderita gangguan jiwa tidak di bawa ke dokter/ RSJ untuk memperoleh pengobatan yang rasional melainkan dibawa berobat ke cara-cara yang tidak rasional misalnya ke dukun, orang pintar,para normal dan lain sejenis. Hal ini menyebabkan penderita gangguan jiwa tidak sembuh bahkan tambah parah. Hal ini tidak hanya berakibat buruk pada penderita, tapi juga bagi keluarga karena sering mengajukan syarat-syarat yang tidak rasional tetapi juga memberikan analisa yang tidak rasional pula sehingga menimbulkan fitnah dan rasa permusuhan. Sebagai akibatnya sering dijumpai di masyarakat praktek-parktek perdukunan misalnya dukun santet,dukun pellet dan sejenisnya (Hawari, 2001).

Di dalam Ilmu Kedokteran Jiwa untuk mengungkap suatu diagnosis suatu penyakit termasuk gangguan jiwa dipakai poros (axis), yang dikenal dengan diagnosis Multi-Aksial yaitu: pertama, diagnosis gangguan jiwa; kedua, diagnosos gangguan kepribadian; ketiga, diagnosis penyakit fisik; keempat, diagnosis Stres psikososial; dan kelima, diagnosis kemampuan adaptasi dalam satu tahun terakhir.Sebagai contoh misalnya:

Aksis 1 : Skizoprenia tipe paranoid

Aksis 2 : Gangguan kepribadian paranoid

Aksis 3 : Hipertensi

Aksis 4 : Pengangguran (PHK), taraf berat

Aksis 5 : Adaptasi (taraf buruk)

Dengan penegakkan diagnosis Multi-Aksial seperti contoh di atas,maka pendekatan terapinya akan lebih bersifat rasional,komprehensif dan holistic; yaitu terapinya tidak hanya ditujukan pada aksis 1 saja,melainkan juga terhadap keempat aksis lainnya dengan menggunakan terapi medik (somatic) psikofarmaka, psikoterapi,terapi psikososial dan terapi psiko religius.

Tujuan keperawatan jiwa menolong klien agar dapat kembali ke masyarakat sebagai individu yang mandiri dan berguna.Hal ini dapat dicapai melalui proses komonikasi: 1)menerima dirinya sendiri; 2) memperbaiki hubungan interpersonal dan 3) mengusahakan klien dapat mandiri.

Dampak negative dari perawatan di rumah sakit jiwa,mendorong dicanangkannya pelayanan kesehatan jiwa masyarakat (Community based service) yaitu mempertahankan klien sedapat mungkin dimasyarakat.Hal ini mungkin dilakukan melalui integrasi kesehatan jiwa masyarakat di Puskesma.Jika tidak mungkin dipertahankan maka Puskesmas merujuk ke RS/RSJ.Dengan demikian maka rentang asuhan keperawatan adalah dari pelayanan di masyarakat sampai pelayanan di rumah sakit.Dengan kata lain pelayanan secara terus menerus pada setiap keadaan klien yang mungkin berfluktuasi disepanjang rentang sehat - sakit.

PENGERTIAN DAN ISTILAH-ISTILAH

1. Keperawatan jiwa adalah proses interpersonal yang berupaya untuk meningkatkan dan mempertahankan perilaku individu yang menyokong kesatuan fungsi.

2. Menurut ANA,keperawatan jiwa merupakan suatu bidang spesialisasi praktek keperawatan yang menerapkan teori perilaku manusia sebagai ilmunya dan diri individu sendiri secara terapeutik sebagai seninya untuk meningkatkan ,memulihkan kesehatan jiwa klien dan meningkatkan kesehatan mental masyarakat di mana klien berada.

3. Menurut Federasi kesehatan sedunia:

a. Kesehatan jiwa adalah suatu kondiri yang memungkinkan perkembangan optimal bagi individu secara fisik,intelektual dan emosional sepanjang hal itu tidak bertentangn dengan kepentingan orang lain.

b. Suatu masyarakat yang baik adalah masyarakat yang menjamin perkembangan oftimal sambil menanggung pula perkembangannya sendiri dan ada toleransi terhadap masyarakat lainnya.

c. Suatu kewarga negaraan dunia,berarti suatu kehidupan bersama pada taraf internasional. Ketiga rumusan tersebut menunjukkan pentingnya hubungan wajar antara manusia sebagai satu landasan pokok dalam kesehatan jiwa.

4. Sehat jiwa menurut Merie Yahoda:

a. Sikap positif terhadap diri sendiri

b. Pertumbuhan,perkembangan dan aktualisasi diri

c. Integrasi dan ketanggapan emosional

d. Otonomi dan kemantapan diri

e. Persepsi realitas yang akurat

f. Penguasaan lingkungan dan kompetisi sosial.

5. Sehat jiwa menurut Dirjen Keswa Depkes RI (1991) adalah kondisi yang memungkinkan berkembangnya fisik,intelektual dan emosional seseorang secara oftimal sehingga ia mampu tumbuh dan beradaptasi dengan lingkungannya secara wajar dengan harkat martabat manusia.

6. Kesehatan jiwa deselenggarakan untuk mewujudkan jiwa yang sehat secara oftimal baik intelektual maupun emosional (pasal 24,UU tentang kesehatan,1992).Upaya peningkatan kesehatan jiwa dilakukan untuk mewujudkan jiwa yang sehat secara oftimal,baik intelektual maupun emosional melalui pendekatan peningkatan kesehatan,pencegahan dan penyembuhan penyakit dan pemulihan kesehatan,agar seseorang dapat tetap atau kembali hidup secara harmonis,baik dalam lingkungan keluarga,lingkungan kerja dan atau dalam lingkungan masyarakat.

7. Normal menurut Ilmu Kedokteran Jiwa

a. Kesadaran akan identitas pribadinya dan memiliki tujuan hidup

b. Sadar akan otonomi dirinya/pribadinya

c. Aktif,produktif dan tekun dalam menyelesaikan tugas

d. Dapat menerima batas-batas kesanggupan secara realistik

e. Dapat menghadapi stress dan dapat bereaksi secara fleksibel dan rasional

f. Mau melihat kenyataan dan bersedia menyelesaikan masalah.

g. Dapat menikmati kegembiraan dari berbagai sumber.

Gejala-gejala gangguan jiwa mungkin merupakan usaha untuk: 1) menghadapi kecemasan; 2) menutup diri terhadap kesulitan-kesulitan hidup; 3) melarikan diri dari keadaan sulit; 4) menyembunyikan kebenaran terhadap diri sendiri.

Motivasi untuk merawat klien dengan masalah kesehatan jiwa:

1. Gangguan jiwa tidak pernah merusak seluruh kepribadian dan perilaku manusia

2. Perilaku manusia selalu dapat diarahkan pada respon yang baru

3. Perilaku manusia selalu dipengaruhi faktor yang menimbulkan tekanan sosial,dapat dikuatkan atau dilemahkan.

PERAWATAN KLIEN DI RUMAH SAKIT JIWA

Rencana keperawatan klien di rumah sakit jiwa meliputi:

1. Rencana tindakan keperawatan yang dilakukan selama klien dirawat: Pada awal klien di rawat,perawat hendaknya melakukan kontrak hubungan dengan klien dan keluarga.Keluarga mengetahui peran dan tanggung jawabnya dalam proses keperawatan yang direncanakan melalui kontrak yang telah disepakati.Hubungan saling percaya antara perawat dan klien merupakan dasar utama untuk membantu klien mengungkapkan dan mengenal perasaannya,mengidentifikasi kebutuhan dan masalahnya,mencari alternative pemecahan masalah,melaksanakan alternative yang dipilih serta mengevaluasi hasilnya.Tindakan keperawatan terhadap keluarga antara lain:

a. Menyertakan keluarga dalam rencana perawatan klien

b. Menjelaskan pola perilaku klien dan cara penanganannya

c. Membantu keluarga berperilaku terapeutik,yang dapat menolong memecahkan masalah klien.

d. Mengadakan pertemuan antar keluarga klien:diskusi,membagi pengalaman,mengatasi masalah klien.

e. Melakukan terapi - keluarga.

f. Menganjurkan kunjungan keluarga yang teratur.

2. Persiapan Pulang: Perawatan di rumah sakit akan bermakna jika dilajutkan dengan perawatan di rumah.Untuk itu,selama di rumah sakit perlu dilakukan persiapan pulang.Persiapan pulang dilakukan segera mungkin setelah dirawat serta diintegrasikan di dalam proses keperawatan.Persiapan atau rencana pulang bertujuan untuk:

a. Menyiapkan klien dan keluarga secara fisik,psikologis dan sosial

b. Meningkatkan kemandirian klien dan keluarga.

c. Melaksanakan rentang perawatan antara rumah sakit dan masyarakat

d. Melaksanakan proses pulang yang bertahap.

Beberapa tindakan keperawatan yang dapat dilakukan dalam persiapan pulang adalah:

a. Pendidikan (edukasi,reedukasi,reorientasi).Youssef menemukan penurunan angka kambuh pada klien dan keluarga yang mengikuti program pendidikan.Pendidikan kesehatan ini ditujukan pula untuk mencegah atau menguraikan dampak gangguan jiwa bagi klien. Program pendidikan yang dapat dilakukan adalah: 1) Ketrampilan khusus: ADL,perilaku adaptif,aturan makan obat,penataan rumah tangga,identifikasi gejala kambuh,pemecahan masalah. 2) Keterampilan umum: komunikasi efektif,ekspresi emosi yang konstruktif,relaksasi,pengelolaan stress (stress management).

b. Program pulang bertahap.Setelah klien mempunyai kemampuan dan ktrampilan mandiri maka klien dapat mengikuti program pulang bertahap.Tujuannya adalah melatih klien kembali ke lingkungan keluarga dan masyarakat.Klien,keluarga,bahkan kalau perlu masyarakat dipersiapkan, antara laian apa yang harus dilakukan klien di rumah, apa yang harus dilakukan keluarga untuk membantu adaptasi.Kegiatan yang dilakukan klien dan keluarga di rumah dapat dibuat daftar dan dievaluasi keberhasilannya sebagai data untuk rencana berikut.

c. Rujukan. Integrasi kesehatan jiwa di Puskesmas sebaiknya mempunyai hubungan langsung dengan rumah sakit.Perawat komuniti (Puskesmas) sebaiknya mengetahui perkembangan klien di rumah sakit dan berperan serta dalam membuat rencana pulang.

3. Rencana Perawatan di rumah.

Setelah klien pulang ke rumah, sebaiknya klien melakukan perawatan lanjutan pada Puskesmas di wilayahnya yang mempunyai program integrasi kesehatan jiwa.Perawat komuniti yang menangani klien dapat menganggap rumah klien sebagai “ruang perawatan”.Perawat,klien dan keluarga bekerja sama untuk membantu proses adaptasi klien di dalam keluarga dan masyarakat.Perawat dapat membuat kontrak dengan keluarga tentang jadwal kunjungan rumah dan aftercare di Puskesmas. Contoh Jadwal Kunjungan Rumah:

Minggu pertama : 2 kali per hari

Minggu kedua : 1 kali per hari

Minggu ketiga : 3 kali per minggu

Minggu keempat : 2 kali per minggu

Bulan kedua s/d 6 bulan : 1 kali per minggu

Selanjutnya : 1 kali per bulan

Contoh Jadwal Aftercare

Bulan pertama : 2 kali per bulan,ditemani keluarga

Bulan kedua : 2 kali per bulan, diantar ke kendaraan

Bulan ketiga : 2 kali per bulan, sendiri

Selanjutnya : 1 kali per bulan, sendiri.

(Jadwal kunjungan rumah dan aftercare dapat dimodifikasi sesuai dengan kebutuhan klien).

Perawat membantu klien dan keluarga menyesuaikan diri dilingkungan keluarga,dalam hal sosialisasi,perawatan mandiri dan kemampuan memecahkan masalah.

PENATALAKSANAAN GANGGUAN JIWA DI PUSKESMAS

Perawat komuniti (Puskesmas) sebaiknya mengetahui perkembangan klien di rumah sakit dan berperan serta dalam membuat rencana pulang, dan sebaliknya pada klien gangguan jiwa yang akan dirujuk ke RSJ.

Terapi dalam psikiatri yang sering ditemukan di PKM dapat dibagi dalam :

1. Somatoterapi

2. Psikoterapi suportif/singkat

3. Terapi sosial dan tindakan lainnya (manipulasi lingkungan).

Penatalaksanaan gangguan jiwa di Puskesmas disesuaikan dengan jenis gangguan jiwa seperti:

Gangguan Psikosis/Psikotik :

1.Anti psikotik,ECT

2. Psikoterapi suportif

3. Keagamaan/ religius dan bila perlu rujuk ke RSJ

Gangguan Kepribadian:

1. Anti psikotik bila klien sukar dikendalikan kemauannya.Bila klien dapat membahayakan dirinya dan orang lain.

2. Konseling keluarga

3. Keagamaan/religious dan bila perlu rujuk ke RSJ

Gangguan Neurosisa :

Cemas : a. Anti Ansietas

b. Psikoterapi suportif

c. Relaksasi,rekreasi dan olah raga

d. Bila perlu rujuk ke RSJ

Depresi : a. Anti depresi

b. Psikoterapi suportif

c. Relaksasi, rekreasi dan olah raga

d. Bila perlu rujuk ke RSJ

Psikosomati:

a. Anti Axietas atau anti depresi tetapi terhadap penyakit fisiknya

b. Psikoterapi Suportif

c. Relaksasi,rekreasi dan olah raga,Bila perlu rujuk ke RSJ

Ketergantungan Alkohol/obat (gangguan penggunaan zat)

b. Terapi simptomatik tergantung zat yang digunakan

c. Psokoterapi suportif dan konseling keluarga.

d. Rujuk ke RSU, RSJ atau RSKO bila perlu

Reterdasi Mental :

b. Anti psikotik untuk mengatasi tingkah lakunya

c. Konseling keluarga

d. SLB

e. Kalau perlu rujuk ke RSJ untuk pemerikasaan dan evaluasi lebih lanjut.

Gangguan Keshatan Jiwa anak Remaja:

b. Anti psikotik atau kondisi-kondisi: Psikosis,agresif,gangguan gerak streotipi. Anti Depresan untuk kondisi-kondisi: gangguan afektif,stimulasi (Matelfenidat)untuk gangguan pemusatan perhatian dan hiperaktif.

c. Berikan perasaan aman/tenang,menyenangkan,kesempatan menyalurkan keinginan/dorongan dalam dirinya,perhatian dan kasih sayan pada kondisi-kondisi:ganguan tidur,masalah makan,masalah ketakutan,menolak pergi sekolah

d. Bila perlu rujuk ke RSJ

Epilepsi

a. Anti epiliptika

b. Psikoterapi suportif

c. Bila perlu rujuk ke RSJ

Terapi farmakologik dilakukan dengan menggunakan obat-obat yang tersedia di Puskesmas atau bila perlu diresepkan untuk beli di apotik luar.Bila perlu Psiko terapi/konseling lebih lanjut,sediakan waktu tersendiri.Peningkatan pengetahuan dan keterampilan dapat dilakukan pada seminar,pertemuan konsultasi kesehatan jiwa yang diselenggarakan secara berkala.

FASILITAS PELAYANAN KESEHATAN JIWA DI MASYARAKAT

Keluarga merupakan unit yang paling dekat dengan klien,dan merupakan “ perawat utama” bagi klien. Keluarga berperan dalam menentukan cara atau asuhan yang diperlukan klien di rumah.Keberhasilan perawat di rumah sakit dapat sia-sia jika tidak diteruskan di rumah yang kemudian mengakibatkan klien harus dirawat kembali (kambuh). Peran serta keluarga sejak awal asuhan keperaatan di rumah sakit akan meningkatkan kemampuan keluarga merawat klien di rumah sehingga kemungkinan kambuh dapat dicegah.

Pentingnya peran serta keluarga dalam perawatan klien gangguan jiwa dapat dipandang dari berbagai segi:

1. Pertama, keluarga merupakan tempat dimana individu memulai hubungan interpersonal dengan lingkungannya.Keluarga merupakan “institusi” pendidikan utama bagi individu untuk belajar dan mengembangkan nilai,keyakinan,sikap dan perilaku.Individu menguji coba perilakunya di dalam keluarga, dan umpan balik keluarga mempengaruhi individu dalam mengadopsi perilaku tertentu.Semua ini merupakan persiapan individu untuk berperan dimasyarakat.

2. Jika keluarga dipandang sebagai suatu system, maka gangguan yang terjadi pada salah stu anggota dapat mempengaruhi seluruh system.Sebaliknya disfungsi keluarga dapat pula merupakan salah satu penyebab terjadinya gangguan pada anggota.

3. Berbagai pelayanan kesehatan jiwa bukan tempat klien seumur hidup tetapi hanya fasilitas yang membantu klien dan keluarga mengembangkan kemampuan dalam mencegah terjadinya masalah, menanggulangi berbagai masalah dan mempertahankan keadaan adaftif.

4. Dari beberapa penelitian menunjukkan bahwa salah satu faktor penyebab kambuh gangguan jiwa adalah keluarga yang tidak tahu cara menangani perilaku klien di rumah ( Keliet,1996).

Dari keempat pernyataan di atas dapat disimpulkan bahwa keluarga berperan penting dalam peristiwa terjadinya gangguan jiwa dan proses penyesuaian kembali setiap klien. Oleh karena itu,peran serta keluarga dalam proses pemulihan dan pencegahan kambuh kembali klien gangguan jiwa sangat diperlukan.

Penanggung jawab utama pelayanan kesehatan jiwa di masyarakat adalah unit Integrasi kesehatan jiwa di Puskesmas.Fasilitas ini perlu dibantu oleh unit pelayanan yang lain dapat berupa pemerintah,swasta,atau sukarela,seperti: latihan kerja,half way house ,group home,klinik krisis,hot line servce, persatuan orang tua dan teman klien.

5. Balai latihan kerja (BLK). Program latihan kerja yang telah dilakukan klien di rumah sakit prlu dilanjutkan setelah klien pulang ke rumah. Dalam rencana pulang, identifikasi fasilitas BLK yang ada di daerah tempat tinggal klien telah dilakukan sehingga rujukan dapat dilaksankan.Penyaluran tenaga kerja klien dapat dilakukan melalui kerja sama dengan departemen tenaga kerja.

6. Half Way House: Fasilitas perumahan yang dapat digunakan klien sebagai tempat tinggal peralihan dari rumah sakit ke keluarga perlu pula dikembangkan.Petugas di perumahan ini hanya sebagai motivator dan fasilitator.

7. Klinik krisis: Pelayanan 24 jam diperlukan untuk segera memberikan pelayanan pada keadaan kritis,sehingga setiap saat keuarga memerlukan dapat segera dilayani tanpa perlu langsung dirawat di rumah sakit jiwa.Petugas di klinik krisis dapat menentukan apakah klien perlu dirawat di rumah sakit atau cukup mendapat perawatan rumah yang intensif.

8. Hot line service : Pelayanan gratis melalui telepon.Pelayanan ini diperlukan pada keadaan darurat,misalnya klien yang ingin bunuh diri,klien amuk.Klien,keluarga dan masyarakat dapat mengungkapkan masalah,mendapat informasi yang diperlukan tanpa memberitahu identitas.

9. Sistem Pendukung: Persatuan keluarga klien dan klien, dan teman klien,atau kelompok masyarakat tertentu yang berminat dalam kesehatan jiwa merupakan system pendukung klien. Kelompok dapat membuat pertemuan yang teratur,mendiskusikan masalah yang dihadapi klien serta mencari pemecahan yang terbaik.Tukar pengalaman dalam merawat klien merupakan proses belajar yang baik yang dapat diselenggarakan kelompok. Selain itu kelompok dapat mengadakan pertemuan ilmiah baik untuk keluarga klien maupun masyarakat luas. Semua pelayanan dan asuhan dilaksanakan secara terpadu dengan berbagai disiplin lain dalam tim kesehatan jiwa; dokter,psikiater,perawat,pekerja sosial,terapis okupasi,psikolog,keluarga dan masyarakat.

1 comment:

  1. thanks uda bantuin... ni nge bantu banget buat nilai ku yg tertunda... uda gua cri dimana2.. tapi ga puas dengan jawabannya.. untuk blog ini nyediain yg paling lengkap.. salut ma km.. gua transferin PAYPAL deh... buat donasi ke blog ini.. ini ucapan trimah kasih aku...

    ReplyDelete

Komentarnya yaa...

Klik Dibawah Untuk Download App Lazada Di Android