DINAMIKA MASYARAKAT DAN KEBUDAYAAN
Suatu masyarakat serta kebudayaan yang dihasilkannya, tidak mungkin berhenti, kecuali apabila masyarakat tersebut telah mati. Setiap masyarakat dan kebudayaan pasti mengalami perubahan-perubahan. Mungkin saja perubahan-perubahan yang terjadi tidak begitu tampak oleh karena manusia kurang menyadarinya atau merasa dirinya kurang terlibat. Di Indonesia sering dikatakan bahwa masyarakat desa sama sekali tidak berubah atau suku-suku bangsa yang terasing sama sekali masih murni. Ini sama sekali tidak benar! Mungkin pandangan-pandangan terseebut didasarkan pada pandangan yang sangat sempit. Perkembangan ilmu pengetahuan dan tekhnologi yang sangat pesat, hampir-hampir tidak memungkinkan untuk manusia dan kelompoknya untuk menutup diri terhadap pengaruh-pengaruh dari luar. Memang perlu diakui bahwa disatu pihak pengaruh tersebut mengkin masuk dengan mudah namun dipihak lain, adapula pengaruh-pengaruh yang lebih sukar masuknya.
Apabila pada suatu wadah ditelaah suatu masyarakat atau bagian masyarakat dewasa ini, maka mungkin menarik sekali untuk membandingkannya dengan keadaan pada beberapa tahun lalu. Mungkin yang tampak pertama-tama adalah perubahan fisik, seperti bertambahnya jalan, gedung-gedung, masuknya listrik dipelosok desa, tekhnologi makin canggih dan seterusnya. Kalau ditelaah semakin dalam lagi maka akan tampak perubahan-perubahan dibidang mental seperti misalnya, perubahan nilai, kaedah, pandangan hidup, dan seterusnya. Mungkin konsep-konsepnya masih tercantum seperti pada masa lalu akan tetapi penafsirannya sudah berbeda dengan masa lalu. Lagipula perlu dicatat bahwa berbagai macam bidang kehidupan saling berkaitan dan saling mempengaruhi. Masuknya listrik didaerah pedesaan misalnya, akan sangat berpengaruh terhadap kemungkinan-kemungkinan atau kesempatan untuk mengembangkan ilmu pengetahuan sebagai proses memberikan dasar yang lebih mantap pada keterampilan tradisional yang sudah ada. Tenaga listrik juga memungkinkan manusia untuk berhubungan lebih cepat dengan dunia luar, beserta pengaruh-pengaruh yang menyertainya.
Suatu perubahan dapat terjadi karena faktor-faktor yang berasal dari masyarakat itu sendiri maupun berasal dari luar masyarakat itu sendiri. Suatu penemuan baru dalam masyarakat itu sendiri misalnya mungkin akan mengakibatkan perubahan pada masyarakat yang bersangkutan. Atau pengaruh dari luar misalnya, hasil tekhnologi tertentu mungkin juga mengakibatkan terjadi perubahan. Kadang-kadang perubahan tersebut terjadi oleh karena munculnya tokoh-tokoh yang telah menjalani pendidikan dari luar masyarakat tersebut. Kemerdekaan Indonesia tercapai antara lain karena tokoh-tokoh masyarakat pada waktu itu mengalami pendidikan dari luar negeri.
Faktor-faktor yang menyebabkan terjadinya perubahan tidak selalu menghasilkan akibat-akibat yang sama. Adakalanya faktor tersebut hanya mengakibatkan terjadinya perubahan-perubahan kecil yang tampaknya kurang berarti (akan tetapi telah terjadi perubahan). Di lain pihak, akan terlihat bahwa dalam berbagai bidang, perubahan terjadi dengan lambat sekali. Misalnya di Indonesia sedang berlangsung keluarga berencana, untuk menekan angka kelahiran yang semakin tinggi. Salah satu akibat yang diharapkan adalah kecenderungan yang kuat membentuk keluarga kecil(misalnya yang terdiri dari orang tua dan dua anak). Perubahan yang diharapkan tersebut memakan waktu yang lama, oleh karena merupakan perubahan terhadap nilai dan pola pikir yang telah tertanam dengan kuatnya pada masa lalu.
Suatu pengaruh dari luar mungkin hanya menghasilkan perubahan-perubahan kecil, yang tidak mempunyai ruang lingkup yang terlalu luas. Perubahan yang terjadi tampak dengan nyata, akan tetapi efeknya tidak luas dan mungkin dianggap tidak berarti apabila dihubungkan dengan struktur sosial dan kebudayaan secara luas. Misalnya, perubahan mode pakaian atau corak rambut, tidak ada pengaruhnya dalam bidang politik atau bidang hukum dan yang bidang yang lainnya.
Didalam suatu masyarakat, mungkin terjadi bahwa suatu perubahan memang dikehendaki oleh masyarakat tersebut, yang dalam hal ini diwakili oleh pemimpin-pemimpinnya. Pemimpin-pemimpin tersebut kemudian dinamakan masyarakat yang diberikan kepercayaan untuk merubah masyarakat. Suatu perubahan yang dikehendaki dan kemudian direncanakan, mungkin saja mengalami kegagalan karena timbulnya bermacam-macam sebab. Misalnya masyarakat kurang dapat memahami maksud dari pelopor perubahan tersebut, atau ada kalangan-kalangan tertentu yang mempunyai pengaruh cukup kuatyang ternyata ingin mempertahankan keadaan demi demi keuntungan dan kepentingan pribadi dan kelompoknya. Adakalanya perubahan tersebut tidak mencapai tujuan, oleh karena kewibawaan pelopor perubahan memudar, akan tetapi pihak tersebut tetap bertahan untuk mempertahankan kedudukannya sebagai pelopor perubahan. Oleh karena itu, maka mungkin sekali bahwa perubahan yang dikehendaki dan direncanakan justru akan menghasilkan hal-hal diluar rencana yang sama sekali tidak dikehendaki. Jelaslah kiranya bahwa mentalis pelopor perubahan juga sangat berpengaruh terhadap hasil-hasil yang dikehendaki dari perubahan yang telah direncanakan itu.
Sebagaimana telah dinyatakan di muka, maka perubahan di satu bidang kehidupan lazimnya mempengaruhi bidang-bidang kehidupan lainnya. Misalnya perubahan dibidang hukum mungkin saja mempengaruhi bidang pendidikan dan selanjutnya akan mempunyai efek terhadap bidang ekonomi dan bidang lainnya. Perubahan dalam bidang politik mungkin akan mempengaruhi bidang ekonomi, bidang hukum dan bidang lainnya. Misalnya ketika bangsa Indonesia memproklamasikan kemerdekaannya (perubahan dalam bidang politik hal itu berpengaruh terhadap bidang-bidang lainnya, contohnya bidang hukum). Di bidang hukum terjadi perombakan-perombakan contohnya diusahakan untuk menghilangkan pluralisme di bidang proses peradilan dengan jalan menyederhanakan struktur dan organisasi badan-badan peradilan.
Suatu proses perubahan akan lebih mudah terjadi, apabila masyarakat yang bersangkutan bersikap terbuka terhadap hal-hal atau unsur-unsur baru (baik dari luar maupun dari dalam). Sikap yang terbuka lazimnya ada, apabila masyarakat tersebut mempunyai latar belakang pendidikan yang cukup, sehingga mulai percaya pada keampuhan ilmu pengetahuan dan tekhnologi. Kecuali dari itu, maka pelopor perubahan juga harus dapat menjelaskan secara konkrit kegunaan dari unsur-unsur baru yang akan dilembagakan. Oleh karena itu apabila ingin diadakan perubahan, maka diperlukan persiapan-persiapan yang matangsekali. Perubahan harus dimulai dengan usaha-usaha yang persuasif, oleh karena kecenderungan bahwa hal-hal yang dipaksakan akan menghasilkan suatu sikap atau perikelakuan yang menentang yang mungkin berwujud atau mungkin merupakan sikap melawan yang diam-diam. Sikap melawan yang diam-diam tersebut pada suatu waktu akan meledak, sehingga menimbulkan akibat-akibat negatif yang menggoncangkan masyarakat secara menyeluruh.
Proses perubahan masyarakat dan kebudayaan yang dikehendaki dan direncanakan, biasanya dinamakan modernisasi. Proses modernisasi ini pada intinya berarti peningkatan kemampuan dari masyarakat yang bersangkutan untuk memenuhi kebutuhan-kebutuhan dasarnya yang mencakup :
- Kebutuhan akan sandang, pangan dan papan
- Keselamatan terhadap jiwa dan harta benda
- Kesempatan yang wajar untuk dihargai (sehingga mempunyai harga diri)
- Kesempatan untuk mengembangkan kemampuan atau potensi
- Mendapatkan kasih sayang dari sesamanya
Peningkatan kemampuan untuk memenuhi kebutuhan-kebutuhan dasar tersebut memang mungkin berbeda cara pada bagian-bagian masyarakat. Suatu kebutuhan tertentu mungkin terpenuhi dengan tetap mempertahankannilai-nilai tradisional atau denngan sekedar merubah penafsiran terhadap nilai-nilai tersebut. Kemungkinan lainnya adalah bahwa yang diperlukan merupakan hasil kebudayaan barat. Jadi pengertian modernisasi tersebut hendaknya dikaitkan dengan tujuannya dan bukan terhadap cara-caranya semata. Pengkaitan terhadap cara-caranya semata mungkin menghasilkan kesalah pahaman yang dapat menghasilkan sikap-sikap apriori terhadap kebudayaan tradisional maupun kebudayaan barat.
Apa yang telah dijelaskan secara singkat di atas, dapat diterapkan pada kenyataan yang dihadapi. Misalnya hal-hal tersebut dapat diterapkan pada kehidupan sehari-hari di lingkungan sosial terdekat, contohnya tetangga-tetangga. Hal itu juga dapat diterapkan pada kehidupan Perguruan Tinggi yang dianggap sebagai suatu lembaga ilmiah yang merupakan tempat pelopor-pelopor perubahan.
PROSES-PROSES KEBUDAYAAN
1. Evolusi
Inti dari evolusi adalah masyarakat dianggap berkembang secara bertahap. Hal terpenting dalam menerapkan model evolusi adalah mengidentifikasikan setiap tahap peradaban. Setiap generasi ahli sosiologi mengembangkan suatu skema baru dalam mengklasifikasikan masyarakat menurut tingkat perkembangannya. Emile Durkheim mengemukakan pendapat yang agak berbeda dengan model evolusi yang dikemukakan pendahulunya. Model yang dikemukakan Durkheim mungkin dapat disebut sebagai model evolusi semu, karena ia sendiri sesungguhnya tidak yakin bahwa perubahan masyarakat selalu mengarah pada kesempurnaan atau kemajuan. Ia bertitik tolak pada kecenderungan sejarah dimana selalau terdapat penambahan spesialisasi pekerjaan dari tahap yang satu ketahap yang lainnya. Durkheim membedakan dua tipe masyarakat berdasarkan kemajuan yang dicapai dalam pembagian kerja :
Tipe pertama adalah masyarakat primitif dan masyarakat pedesaan. Pada tipe masyarakat ini tingkat spesialisasi pekerjaan sangat sangat terbatas dan sangat sederhana. Setiap orang terikat satu sama lain dalam suatu ikatan disebut “solidaritas mekanis” (mechanical solidarity).
Tipe kedua, dimana hubungan antara individu didasarkan atas “solidaritas organis” (organic solidarity). Hubungan antara individu sifatnya kurang intim dan keterikatan satu sama lain yg terjadi karena persamaan kepentingan, ikatan dibuat berdasarkan kontrak, dan komunikasi dilakukan melalui simbol-simbol abstrak.
Untuk menilai model evolusi menurut tahap-tahap perkembangannya perlu dipertimbangkan beberapa hal :
Pertama, di satu pihak ada kecenderungan bahwa suatu bangsa tidak dapat mencapai kemajuan pada tingkat kompleks tanpa melalui tahap-tahap perkembangan yang seharusnya. Misalnya suku Indian Maya telah mengenal roda namun tidak mengenal potensi roda untuk menciptakan kendaraan.
Kedua, Di satu pihak ada kecenderungan bahwa peradaban berkembang secara linear, akan tetapi di lain pihak ada bukti dimana masyarakat hampir berkembang dalam periode yang cukup panjang, bahkan ada yang mundur, dan yang lain maju dengan sangat pesat.
Ketiga, di satu pihak ada kecenderungan bahwa bangsa yang menang dalam persaingan penguasaan sumberdaya, seperti yang dipercayai menganut Darwinisme sosial seperti spencer, akan lebih maju dari yang lain. Di lain pihak ada bukti bahwa bukan menang persaingan yang penting, akan tetapi kerjasama yang erat dalam rangka saling mengisi kelangkaan sumberdaya yang dimiliki masing-masing masyarakat.
Keempat, Di satu pihak evolusi tidak mengenal batas akhir perkembangan sehingga sulit untuk menilai maju-tidaknya suatu perubahan atau inovasi sosial.
Kelima, Bahwa kemajuan yang diperoleh pada satu bidang tidak selalu diiringi oleh kemajuan di bidang lainnya. Misalnya kemajuan di bidang tekhnologi tidak berarti kemajuan di bidang moral dan sosial.
2. Asimilasi
Asimilasi adalah pembauran dua kebudayaan yang disertai dengan hilangnya ciri khas kebudayaan asli sehingga membentuk kebudayaan baru. Suatu asimilasi ditandai oleh usaha-usaha mengurangi perbedaan antara orang atau kelompok. Untuk mengurangi perbedaan itu, asimilasi meliputi usaha-usaha mempererat kesatuan tindakan, sikap, dan perasaan dengan memperhatikan kepentingan serta tujuan bersama.
Asimilasi akan terjadi apabila :
- Ada perbedaan kebudayaan antar kedua belah pihak.
- Ada interaksi intensif antara kedua pihak.
- Ada proses saling menyesuaikan.
Beberapa faktor yang dapat mempermudah terjadinya asimilasi adalah :
- Sikap dan kesediaan saling bertoleransi.
- Sikap menghargai orang asing dan kebudayaannya.
- Adanya kesempatan di bidang ekonomi yang seimbang.
- Keterbukaan golongan penguasa.
- Adanya kesamaan dalam berbagai unsur budaya.
- Perkawinan campuran.
- Adanya musuh bersamadari luar.
Selain beberapa faktor yang mempermudah terjadinya asimilasi, ada pula faktor-faktor yang menghambat asimilasi, antara lain :
- Adanya isolasi kebudayaan dari salah satu kebudayaan kelompok.
- Minimnya pengetahuan dari salah satu kebudayaan kelompok atas kelompok kebudayaan lain.
- Ketakutan atas kekuatan kebudayaan kelompok lain.
- Perasaan superioritas atas kebudayaan kelompok tertentu.
- Adanya perbedaan ciri-ciri badaniah.
- Adanya perasaan in-group yang kuat.
- Adanya diskriminasi.
- Adanya perbedaan kepentingan antarkelompok.
3. Akulturasi
Akulturasi adalah suatu proses sosial yang timbul manakala suatu kelompok manusia dengan kebudayaan tertentu dihadapkan dengan unsur dari suatu kebudayaan asing. Kebudayaan asing itu lambat laun diterima dan diolah ke dalam kebudayaannya sendiri tanpa menyebabkan hilangnya unsur kebudayaan kelompok itu sendiri.
Apabila diperhatikan prosesnya akulturasi terjadi dalam dua cara, yaitu:
a. Akulturasi damai (penetration pasifique), terjadi jika unsur-unsur kebudayaan asing dibawa secara damai tanpa paksaan dan disambut baik oleh masyarakat kebudayaan penerima.
b. Akulturasi ekstrim, terjadi dengan kekerasan, perang, penaklukkan, akibatnya unsur-unsur kebudayaan asing dari pihak yang menang dipaksakan untuk diterima di tengah-tengah masyarakat yang dikalahkan.
Proses akuturasi sudah sejak zaman dahulu dalam sejarah kebudayaan manusia. Migrasi antarkelompok manusia dengan kebudayaan yang berbeda telah menyebabkan individu-individu dalam kelompok itu dihadapkan dengan unsur kebudayaan asing. Bangsa Indonesia paling tidak telah mengalami tiga kontak kebudayaan asing yang besar yaitu :
a. Kontak dengan kebudayaan Hindu-Budha pada zaman kuno (abad ke-1-15)
b. Kontak dengan kebudayaan Islam pada zaman madya (abad ke-15-17)
c. Kontak dengan kebudayaan barat pada zaman baru (abad ke- 17-20)
Masing-masing kontak kebudayaan tersebut telah menghasilkan proses akulturasi berikut :
- Akulturasi Indonesi-Hindu/Budha
- Akulturasi Indonesia-Islam
- Akulturasi Indonesia-Barat
Contoh akulturasi Indonesia-Hindu/Budha adalah masuknya epos Ramayana atau Mahabrata dalam cerita wayang. Contoh lain adalah terdapatnya arsitektur candi dalam bangunan keagamaan di Indonesia. Contoh akulturasi Indonesi-Islam adalah masuknya unsur arsitektur masjid dari Timur Tengah yang melengkapi bangunan keagamaan di Indonesia. Contoh akulturasi Indonesia-Barat adalah perpaduan budaya Indonesia-Barat dalam bidang kesenian, arsitektur, perdagangan, pendidikan, dan politik. Contoh lain kebudayaan cina seperti Liong dan Barongsai sudah mengalami akulturasi dengan kebudayaan Indonesia.
4. Difusi
Difusi adalah penyebaran unsur-unsur kebudayaan dari satu lingkup kebudayaan ke lingkup kebudayaan lainnya.
Proses difusi terbagi dua macam :
- Difusi langsung
Jika unsur-unsur kebudayaan tersebut langsung menyebar dari suatu lingkup kebudayaan pemberi ke lingkup kebudayaan penerima.
- Difusi tak langsung
Terjadi apabila unsur-unsur dari kebudayaan pemberi singgah dan berkembang dulu di suatu tempat untuk kemudian baru masuk ke lingkup kebudayaan penerima. Difusi tak langsung dapat juga menimbulkan suatu bentuk difusi berangkai, jika unsur-unsur kebudayaan yang telah diterima oleh suatu lingkup kebudayaan kemudian menyebar lagi pada lingkup-lingkup kebudayaan lainnya secara berkesinambungan.
Gejala Difusi
Difusi merupakan konsep dasar tentang adanya kecenderungan alami terjadinya persebaran manusia serta kebudayaan yang menyertainya. Selain itu, realitas keberagaman etnis dan ras menunjukkan adanya unsur orsinilitas (endegenous) dalam setiap kelompok masyarakat. Adanya perbedaan tersebut pada dasarnya merupakan sebuah konstruk alami dari adanya perbedaan gerak perubahan yang terjadi dalam masyarakat tersebut. Meskipun demikian, keberagaman budaya dalam perspektif yang lebih luas justru terdapat unsur kesamaan bentuk budaya, bahkan yang secara geografis berjauhan. Hal ini telah menginspirasi para sarjana antropolog untuk mengkaji lebih jauh tentang adanya prinsip dasar dari akar budaya yang dapat ditemui bahkan pada semua kelompok masyarakat.
Pada akhir abad ke-19, para antropolog menyimpulkan bahwa adanya persamaan unsur-unsur kebudayaan di berbagai tempat disebabkan karena persebaran atau difusi. Adolf Bastian mengemukakan adanya pengaruh Elementer Gedanken, bahwa adanya kesamaan unsur kebudayaan pada dua tempat disebabkan karena keduanya berada pada tingkat evolusi yang sama.
Sedangkan konsep difusi menurut Kroeber menjelaskan tentang perubahan dalam suatu masyarakat dengan cara mencari asal atau ‘aslinya’ dalam masyarakat yang lain. Difusi pada tahapan yang ekstrim menekankan bahwa setiap pola tingkah laku atau unsur budaya yang baru itu tersebar dari satu sumber asli.
Sejarah Difusi
Gejala persebaran unsur-unsur kebudayaan merupakan sebuah sejarah perkembangan peradaban manusia yang secara evolutif bergerak dengan tingkatnya masing-masing. Perbedaan tingkat maupun pola interaksi yang terjadi adalah pola umum yang dapat ditemui pada semua kelompok masyarakat. F. Ratzel (1844-1904) seorang sarjana ilmu hayat, mempelajari berbagai bentuk senjata busur di berbagai tempat di Afrika. Ia banyak menemukan persamaan bentuk pada busur-busur tersebut pada berbagai tempat di Afrika. Begitu pula dengan unsur kebudayaan lainnya, seperti rumah, topeng, dan pakaian. Temuan tersebut mengarahkannnya untuk menarik kesimpulan bahwa pada waktu yang lampau terjalin hubungan antara suku-suku bangsa yang mendiami tempat tersebut.
Fenomena kesamaan unsur-unsur kebudayaan tersebut melahirkan anggapan dasar yang menurut Koentjaraningrat bahwa kebudayaan manusia berasal dari satu pangkal dan berada di suatu tempat tertentu. Unsur inilah yang kemudian berkembang dan menyebar ke tempat lain dan kelompok masyarakat lainnya. Dengan demikian konsep ini menyiratkan bahwa sejarah kebudayaan manusia diawali dengan sebuah kebudayaan awal sebagai pusat atau inti dari sejarah perkembangan kebudayaan manusia. Kebudayaan inti (induk) tersebut berkembang dan menyebar, kemudian melahirkan bentuk (unsur) baru karena pengaruh lingkungan dan waktu. Oleh karena itu, tugas terpenting dari ilmu etnologi adalah mencari kembali sejarah gerak perpindahan bangsa-bangsa itu.


No comments
Komentarnya yaa...